asihkah Anda lekat dengan frasa “henpon sejuta umat”? Kalau ditanyakan sekarang, jawaban yang muncul bisa jadi tergantung dari generasi apa orang yang ditanya. Jadi senyum-senyum sendiri teringat gagah-gagahnya menenteng telepon genggam dengan julukan itu? Bila iya, sebuah cerita sudah bisa dimulai.
Bagi generasi 2000-an, frasa “henpon sejuta umat” adalah sebutan yang seketika merujuk pada telepon genggam bermerek Nokia. Sebutan itu sebenarnya adalah plesetan dari julukan “Dai Sejuta Umat” yang lebih dulu kondang melekat pada sosok almarhum KH Zainuddin MZ.
Saat itu, telepon genggam masih masuk kategori barang yang cukup mewah untuk dimiliki, setelah versi komersial mulai bertebaran sekitar akhir dekade 90-an. Ada sejumlah merek yang beredar luas—meski tak seluas sekarang—tetapi Nokia-lah yang menjadi penguasa pasar.
Pilihan ragam seri, warna, tampilan layar, bahkan bunyi nada dering, menempatkan Nokia tak semata sebagai telepon genggam, tetapi juga semacam “pemeringkat status" pemiliknya. Rasanya, seseorang belum keren kalau belum punya telepon genggam bermerek Nokia dengan nada dering polyphonic.
Nada dering MP3 belum musim. Ring back tone belum terpikirkan juga. Layar warna di Nokia—meski terbatas pixel-nya kalau dibandingkan spesifikasi telepon genggam pada hari ini—sudah “berbicara” banyak soal status sosial sang empunya. Terlebih lagi ketika Nokia meluncurkan seri communicator, euforia dan prestise pun melaju beriringan.
Pada masa kejayaan itu, Nokia jauh meninggalkan merek-merek pionir lain seperti Ericsson, Siemens, atau Motorola. Bagaimana denganSamsung? Maaf, Samsung pada waktu itu masih merek yang dianggapecek-ecek untuk telepon genggam. Secanggih-canggihnya, para pengguna telepon genggam selain Nokia hanya bisa berkilah—yang kalau dalam bahasa sekarang—, “Nokia terlalu mainstream…”
Namun, apa mau dikata, sejarah punya jalan cerita yang kerap kali tak terduga. Nokia yang pada satu masa meraja, sampai memunculkan frasa “henpon sejuta umat” itu, pada hari ini bahkan sudah tak lagi menjadi perusahaan telekomunikasi yang berdiri sendiri. Merek yang sempat jadi ukuran isi kantong dan kelas sosial pemiliknya itu pun, bahkan sudah resmi tak lagi dipakai.
Ini bisa dibilang “gara-gara” BlackBerry. Pertama kali muncul dengan klaim soal jaringan terenskripsi, dipakai oleh Presiden Amerika Serikat dan para staf-nya, hingga menyeruak luas layanan pesan BlackBerry messenger, menjadikan BlackBerry sebagai “simbol” baru dari prestise, status sosial, dan tingkat kekerenan seseorang. BlackBerry menjadi versi baru dari “henpon sejuta umat” mulai kisaran era 2010.
Sekali lagi orang berlomba-lomba bersaing punya BlackBerry, tak perlu orang dengan profesi yang butuh keypad qwerty apalagi jaringan terenkripsi. Meski Nokia juga punya versi produk ber-keypad qwerty, jaringa tertutup BlackBerry pada waktu itu memberikan janji koneksi yang jauh lebih mumpuni.
Saking
booming-nya
gadget yang satu ini pada waktu itu, merek-merek lokal dan produk-produk Tiongkok pun berderet membuat telepon genggam berpenampilan serupa, meski dengan mesin dan kualitasnya yang jauh lebih sederhana.
Justru, iPhone yang sebenarnya tetap dianggap mahal
amit-amit dan
gadget keluaran Samsung bersama produk-produk lain bersistem operasi Android yang sekarang merajai pasar. Iya, telepon genggamSamsung yang dulu pada masa jaya Nokia adalah pilihan
kepepet saja itu.
Jadi, apa ceritanya? Ya itu tadi, bahwa tak ada yang abadi. Merek yang pada suatu masa pernah jadi raja di pasar, pada hari ini bahkan untuk mempertahankan keberadaan dirinya saja tak bisa. Tentu, bukan berarti tak ada merek yang bisa bertahan berdekade-dekade bahkan sampai hitungan abad.
Di antara penyebab kekakuan itu, sebut dia, "Orang-orang menerapkan aturan-aturan tentang cara menjalankan perusahaan dan mempertahankan aturan-aturan ini saat kondisi di sekitarnya telah berubah."
Nah, bisa jadi perusahaan-perusahaan yang pernah menjadi raksasa di bidangnya semacam Nokia dan BlackBerry pun sudah berusaha terus membuat perubahan—baca: terobosan dan inovasi—untuk menjaga siklus hidupnya tetap di puncak. Namun, bisa jadi langkah itu terlambat, atau parafrase dari kata Adizes , jangan-jangan perubahan itu dilakukan menggunakan sistem yang sudah tak sesuai perkembangan zaman.
Android, sistem operasi sejuta umat?
Pertanyaannya sekarang, ketika setidaknya sampai akhir 2014 pangsa pasar
gadget berbasis sistem operasi Android melebihi 80 persen, apakah frasa "henpon sejuta umat" bisa disandangkan kepada mereka? Ataukah, frasa tersebut yang harus dimodifikasi menjadi "sistem operasi sejuta umat"?
Tentu, bila modifikasi tersebut yang terjadi, Microsoft layak protes. Selama setidaknya tiga dekade terakhir, produk
personal computermereka di bawah label "Windows" digunakan oleh berjuta-juta umat, baik versi yang berlisensi maupun bajakan.
Terlepas dari frasa-frasa
plesetan tersebut, adakah generasi sekarang dan mendatang bakal berjumpa lagi dengan produk-produk yang sebegitu spesifik hingga bisa mengubah gaya hidup sekian juta manusia, bahkan sampai memunculkan frasa semacam itu? Kali ini, jawabannya barangkali tergantung kepada kita semua, di setiap bidang profesi dan aktivitas.
Jadi, selamat memastikan kebaruan terus terjadi, meski itu harus melewati sejuta proses perubahan!! Siapa tahu, kepastian ini akan menghadirkan sejuta karya inovatif yang menjadi manfaat bagi berjuta-juta umat.
Apa kabar iPhone saat BlackBerry menggusur Nokia? Jawabannya, mohon maaf, iPhone belum ada. Ketika kemudian beririsan masa, iPhone muncul dalam balutan yang terlalu premium. Hanya mereka yang butuh penampilan dan jelas punya uang yang bisa punya iPhone generasi-generasi awal.
Kelas menengah saat itu bisa jadi juga belum terlalu “ngehe”, atau ya semata karena memang saking mahalnya saja produk besutan Apple itu. Lagi-lagi, Samsung masih jadi merek telepon genggam yang dilirik sebelah mata saja saat itu, meski tak seterpinggirkan seperti pada era kejayaan Nokia.
Namun, lagi-lagi sejarah punya alur cerita tersendiri. Pada hari ini, pangsa pasar BlackBerry pada akhir 2014 tinggal sekitar 0,4 persen dari seluruh telepon genggam yang beredar di dunia, merujuk data IDC.
Tak ada merek yang abadi
Setiap benda—bahkan makhluk hidup—secara alami punya siklus “hidup”. Merek dan perusahaan bukanlah perkecualian. Bila dibiarkan saja semua berjalan secara alami, setiap benda dan makhluk akan turun ke masa surut dan lalu mati. Hanya mereka yang bisa menemukan kata kunci “kecuali” yang bakal melawan “takdir” siklus ini, setidaknya dapat memperpanjang putaran siklus tanpa harus terlebih dulu melewati mati.
Perjalanan “henpon-henpon sejuta umat” adalah contoh paling kasat mata dari siklus yang tak terhindarkan ini. Dari ranah teknologi “tetangga” ada pula merek besar seperti IBM yang kini tinggal kenangan, tergeser oleh produk Microsoft bahkan Apple yang pada masa jaya IBM justru tersandung produk gagal semacam “Lisa Project”.
Ichak Adizes, seorang pakar manajemen, pernah mengatakan, "Perusahaan yang bagus harus mampu memperbaharui dirinya dan memperpanjang kesuksesan bisnis." Menurut dia, ada banyak perusahaan yang sukses setelah mendaki dari bawah kemudian berubah kaku.
Sementara Jack Welch dari General Electric berujar, siklus perusahaan juga terkait dengan soal kemampuan perusahaan tersebut berubah. Indikator yang paling kasat mata tentang kemampuan berubah tersebut adalah pertumbuhan angka penjualannya.
Menggunakan analogi, Adizes melengkapi hipotesanya, "Perubahan seperti berkebun. Jika Anda menggarapnya, maka rumput liar tak akan datang dan bunga-bunga akan bermekaran. Jika Anda tak merawatnya, rumput liar akan mengambil tempat bunga-bunga."
Rasanya, tantangan itu adalah memastikan perubahan terus berlangsung, menuju arah yang tepat dan pada waktu yang pas. Kata kunci “kecuali” dalam cerita ini adalah kehadiran proses pembaruan tiada henti, yang tak membiarkan zona nyaman dan status quomenjadi pijakan awal dari bakal hilangnya sebuah nama produk maupun perusahaan.